Showing posts with label Cerita Sedih. Show all posts
Showing posts with label Cerita Sedih. Show all posts
Cerpen Pramuka | The Pieces Of Memories - Aurora Rezki

Cerpen Pramuka | The Pieces Of Memories - Aurora Rezki

Pict From Instagram Account - @agnailmaa

Dingin. Hawa yang terasa di sekitar tubuhku sangat dingin padahal matahari masih menunjukan cahayanya.
“Hosh, hosh.” Ini sangat melelahkan, mengapa jalan ini terasa sangatlah jauh bagiku.
Terlihat gerbang telah tertutup. “Untungnya ini bukan masalah bagiku,” segera saja kubalikan badanku dan kulangkahkan kakiku menuju ke gerbang belakang sekolah. Kunaiki gerbang itu yang tingginya hanya lebih 2 inci dariku.
.
.
“Hap,” oke berhasil seperti biasa dan kini aku harus cepat masuk ke dalam kelas. Entah angin apa yang membawaku ke dalam keberuntungan, guru yang sedang mengajar ternyata tidak ada di kelas. Dan tentu saja kalian tahu apa yang dilakukan para murid saat tidak ada guru. Anak-anak yang tadinya memiliki fake diligent face akan berubah dalam sekejap dan mereka akan sibuk pada aktivitasnya masing-masing bahkan mereka bisa saja tidak menyadari bahwa ada siswa yang telat.
Dan, owh see, i’m true
.
.
Aku masuk dengan santai ke dalam kelas tanpa diperhatikan oleh mereka dan duduk di bangku paling pojok depan, tempat favoritku. Mungkin kalian akan berpikir aku adalah sesosok anak yang rajin, but you wrong, aku memilih tempat duduk di depan bukan karena aku ingin lebih memerhatikan guru ataupun ingin lebih memahami pelajaran yang diberikan, melainkan aku ingin melihat seseorang. Sesorang yang membuatku penasaran dan entah mengapa aku ingin mengenalnya lebih dalam.
.
.
Kupasang earphoneku untuk mengurangi suara berisik dari dalam kelas. Dan mataku mulai terpejam beberapa waktu.
Teett
Bunyi nyaring bel sekolah yang memekakan telinga membuatku terbangun. Kupasang mata ke seluruh ruangan kelas untuk memastikan kondisi yang terjadi. Dan terlihat anak-anak yang mengobrol dengan sesama gengnya tetapi ada juga yang melangkahkan kakinya ke luar kelas untuk mendapatkan makanan mereka di kantin.
.
.
Lalu mataku tertuju terhadap seorang anak berkaca mata yang duduk di baris paling pojok yang berada di sisi lain dari tempatku duduk, Joe, ia menatapku dengan sangat serius.
Melihat hal itu, aku langsung mengoreksi diriku. Kuraba-raba baju seragamku kalau-kalau ada yang salah dengan bajuku atau penampilanku. Tapi tidak ada, semua kancing bajuku terkait, dasi yang kukenakan juga tidak miring. Tidak juga menemukannya, kulupakan semua itu.
.
.
Kuambil kaleng capuccino yang selalu kubawa dalam tas. Kutatap sejenak pintu yang terbuka melihatkan kondisi di luar kelas. Para murid yang berlalu lalang dan tiba-tiba mataku terpaku oleh seorang gadis yang berlalu.
Aku tertegun
“Yap dia” dengan sigap aku berdiri dan mulai mengikutinya.
Kuberjalan di belakangnya menatap punggungnya yang ramping dengan rambut pirangnya sebahu.
“Seiraa” panggil seorang perempuan yang sudah berdiri bersama dua orang perempuan lainnya yang kukira mereka adalah teman Seira, yah Seira yang dipanggil adalah perempuan yang sedang kuikuti.
.
.
Seira pun menuju teman-temannya untuk bergabung dan langsung menuju kantin.
Karena telah sering mengikutinya maka ku hafal dengan kebiasaan yang seira lakukan.
Aku memilih meja yang strategis agar dapat melihatnya lebih jelas, walaupun tidak sampai terdengar pembicaraan mereka. Hanya saja terlihat dengan jelas dari sini wajah Seira yang berseri-seri serta ceria yang membuatku melihatnya menjadi damai. Mereka tampak senang sekali bahkan salah satu temannya ada yang tertawa sampai terbahak-bahak, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi tidak berapa lama Seira bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan teman-temannya.
.
.
Aku pun dengan sigap menjadi stalkernya lagi secara langsung. Aku tidak peduli jika ada yang menatapku mengikuti seorang gadis karena memang tidak akan ada yang memerhatikanku. Aku yang sudah terbiasa dengan sikap orang-orang yang tidak peduli kepadaku.
Yeah, tidak ada yang peduli padaku lagi saat ini.
Bahkan keluargaku telah pergi meninggalkan aku sendiri di dunia ini, dan aku tidak ingin tinggal dengan paman atau bibiku karena itu akan menambah beban mereka.
Mungkin tidak tepat bila kukatakan tidak ada yang peduli padaku, tapi akulah yang membuat mereka agar tidak peduli terhadapku. Aku tidak ingin merasa dikasihani dan aku juga tak ingin membebani orang lain. Maka kubuat semua orang menjauh dari kehidupanku dan dengan begini aku dapat hidup dengan semauku.
.
.
Dahulu aku salah satu orang yang sangat patuh di dalam keluargaku. Mereka akan dengan senang hati memberikan pekerjaan mereka kepadaku dan tentu saja dengan ikhlas kukerjakan sampai dimana mereka semua meninggalkanku saat ada kebakaran yang menimpa rumah yang didiami aku dan keluargaku dan bodohnya hanya aku yang saat itu berada di luar rumah karena sedang kerja kelompok.
Diriku mulai lelah, lelah karena kebahagiaanku direnggut. Semua yang berada di dekatku selalu kuperlakukan dengan baik. Tapi mengapa, mengapa hanya aku yang ditinggal di dunia yang penuh drama ini. Aku yang aktor protagonis di sini ingin vakum dari semua drama ini. Kukeluarkan emosiku dengan menjauhi orang-orang di sekitarku dan mulai hidup bebas.
.
.
Sekian lama aku menjauh dari orang-orang, tetapi kini aku bertemu seseorang, seorang wanita yang berjalan di depanku ini, tanpa ia sadari ia telah menghipnotisku sampai bisa mengikutinya seperti sekarang ini.
Seira berbelok ke kiri ke dalam kelas dan terlihat menuju ke sebuah tas yang tergeletak di atas meja. Ia membuka tas dan mengambil note kecil yang seperti diary lalu ingin melangkahkan kakinya keluar kelas lagi.
Kupikir ini adalah tahap yang baik untuk pertama kali memulai pembicaraan karena dia akan melihatku yang sedang berada di dekat pintu kelasnya.
.
.
Dan saat dia ingin keluar
“Ngg..” ucap Seira sambil menatap ke.. Arahku sepertinya.
Baru saja ingin kubalas dengan melambai
“Hei, apa yang kau cari?” tanyanya.
“Ngg hmm..” aku baru saja ingin menjawabnya
“Aku mencari Dilan, dia dipanggil bu Riana di ruang bk.” Kata seorang pria yang ada di belakangku.
“Owh, maaf nik aku tidak melihatnya, mungkin dia masih di kantin. Kalau begitu aku duluan ya” tersenyum lalu melangkah menjauh.
Aku sedikit terperangah, kecewa, bagaimana bisa ia menghiraukanku, tidak lihatkah ia aku di sini, apakah aku sejauh itu dari orang-orang sehingga tak layak untuk diajak bicara.
.
.
Ha ha ha harusnya aku senang dengan hal ini, aku yang menginginkan semua ini. Tapi rasa sakit di hati ini tak dapat membohongiku, aku yang memulai semua ini maka akan kuselesaikan semuanya juga.
Dan kupastikan aku mengikutinya lagi dan akan bicara dengannya kali ini.
Kulangkahkan kaki menuju arah yang Seira lalui, karena Seira sudah menghilang tak terlihat. Kuedarkan pandanganku mencari-cari di mana gadis pirang itu berada, sambil sesekali melangkahkan kaki dengan pelan.
Dan, she’s there!
Di bangku taman belakang sekolah, sedang memegang buku diary dan mulai menggoreskan buku itu dengan pulpen yang telah ia bawa. Dan..
Hey, tunggu
Ia mulai menangis, air matanya berjatuhan membasahi seragamnya. Ada apa dengannya?
Melihat dia seperti itu hatiku terasa teriris-iris, tanganku terasa dingin, oh bung, tentu saja tanganku terasa dingin, aku masih memegang cappucino yang sedari tadi kubawa dan belum sempat kuminum.
.
.
Ingin rasanya aku menghampirinya, kulangkahkan kakiku ke depan dengan sangat perlahan dan aku hanya dapat berjalan sampai pohon yang menghalangi langkahku. Kakiku seperti tak bisa melaju lagi. Yang kulakukan hanya terdiam diri di belakang pohon, menatapnya.
Hh kujatuhkan diriku berbalik agar aku dapat bersender pada pohon, kubuka capuccinoku dan mulai meminumnya.
Meminum capuccino yang lezat ditemani suara isakan tangis gadis yang kusukai.
Glek gleek kutaruh kaleng capuccinoku yang sepertinya masih tersisa setengahnya. Sudah muak ku dibuatnya. Kubangkitkan badanku lalu meninggalkannya.
.
.
Kubalik ke dalam kelas
Dan lagi-lagi Joe melihatku dengan serius, aku anggap itu biasa awalnya, tapi sampai aku duduk di tempat dudukku ia juga masih melihatku sampai sekarang.
Sebenarnya ada apa dengan anak ini?
Ingin sekali kuhampiri dia dan tonjok muka sok nya. Tetapi kenyataannya aku hanya menghampiri dia bahkan belum selesai aku menghampiri Joe. Tubuhnya malah terlihat gemetar dan keringat bercucuran lalu dia lari terbirit-birit ke luar kelas.
Uwwh dia sangat menghinaku apakah mukaku seseram setan sampai ia lari terbirit-birit?
Ku balik ke tempat dudukku dan menarik nafas panjang.
“Hfft. Owh aku sangat tidak bersemangat.” Batinku. Tetapi tiba-tiba Seira berada di dekat pintu kelasku seperti mencari seseorang dan yang kutahu pasti bukan aku.
.
.
Dan benar saja, ada salah satu anak perempuan di kelasku yang menghampirinya, Setelah beberapa menit mengobrol yang tidak kuketahui pembicaraannya. Kulihat raut wajah Seira berubah dalam sekejap menjadi panik.
Saat aku tidak ingin terlibat dalam permasalahan baru, aku mulai membenamkan wajahku di tangan yang telah kurengkuh.
GUBRAAK
Aku terkesiap, kulihat kondisi anak-anak yang langsung menghampiri arah suara dan terlihat seorang gadis berambut pirang sebahu yang tengah digendong oleh beberapa anak.
Mataku hampir tak percaya. Seira. Seira pingsan. Dengan sigap aku berlari ke arah segerombolan anak yang tengah menggendong seira.
Aku hanya dapat melihatnya, tanpa dapat berbuat sesuatu untuknya.
.
.
Sekarang ia terbaring lemah di rumah sakit. Ku hanya diam tak bergeming, menatapnya tak berguna, menunggunya hingga sadar.
Beberapa detik berlalu
Ia terbangun dan lagi lagi meneteskan air mata. Kulihat ia berbicara kepada orang yang sedari tadi menjaganya. Orang itu pun terlihat mengangguk tanda setuju.
Seira keluar dari kamarnya tanpa menoleh ke arahku sedikitpun, ya, sama seperti saat ia mengabaikanku di sekolah.
Dan apakah dia akan selalu seperti itu, mataku tampak sakit menahan air mata serta sesak di dada.
Tapi entah kenapa
Bertubi tubi ia membuat lubang di hatiku
Menusukkan pisaunya tepat di hatiku
.
.
Aku tetap mengikutinya dan merasa memang itu yang harus kulakukan.
Dengan sigap ku lari layaknya orang yang tak karuan untuk mengejar dia, dia yang tak pernah memerhatikanku, dia yang telah meninggalkanku, yang tak pernah menoleh barangkali sedetikpun kepadaku.
Seira memasuki mobilnya dan mulai melaju. Kubuntuti mobil tersebut dari belakang.
Mobil itu terhenti.
“Inikah tempatnya?” tanyaku dalam hati.
Beribu-ribu Gundukan-gundukan tanah ia lewati sampai tiba di salah satu gundukan yang terlihat masih gembur tanda baru digali, kembang segar telah menyebar menutupi gundukan, dan yang terpenting sebuah papan bersegi panjang. Warna papannya yang putih telah tergoreskan sebuah nama, Seth gamiruz,
Apa apaan ini
Apa ini lelucon
Ini sungguh tidak lucu, batinku tak karuan
Keringat dingin pun bercucuran. Hawa di sekelilingku terasa dingin padahal matahari masih menunjukan cahayanya.
Buku diary yang masih terpegang oleh seira ditaruh di atas gundukan tanah yang masih basah itu.
Tertiup angin, lembar per lembar mulai terbuka. Nampak tanggal serta tulisan-tulisan yang dibuatnya tercantum di dalamnya.
.
.
First met, ia selalu menungguku saat istirahat bahkan ia yang menemaniku saat ku sedang menghirup udara segar di taman belakang sekolah.
Second met, dia masih juga menungguku. Tepat bel istirahat berbunyi. Dia akan selalu ada di kantin menatapku. Di tangannya selalu terggenggam kaleng capuccino.
Third met, kali ini ia memberanikan diri dengan memberikanku kaleng capuccino dan kumulai jatuh hati. Aku sangat senang untuk itu dan sekaligus sedih karena aku harus melakukan terapi nanti di rumah sakit.
Fourth met, dia masih juga menungguku. Dan aku sangat senang karena kini aku dan dia sudah mulai saling melakukan percakapan.
Fift met, kita meminum capuccino di belakang taman sekolah, kutanya mengapa ia sering meminum capuccino. Ia langsung tertawa terbahak-bahak, ia bilang kehidupan kita seperti capuccino karena kehidupannya merupakan kepahitan dan ia bilang karena aku hadir dalam kehidupannya, kepahitan tersebut agak tertutupi dengan kehidupanku yang manis.
.
.
😀
Six met, saat kami sudah bertemu di taman belakang sekolah. Aku mengatakan bahwa diriku mulai menjauh dengan teman-temanku. Lalu ia bertanya mengapa, dan kujawab entahlah. Dia terdiam beberapa saat dan mulai membuat lelucon untuk menghiburku. Kupikir ia terdiam untuk membuat lelucon. 
Sevent met, ia tak berada di taman belakang sekolah lalu kutunggu ia. Tiba-tiba ia datang dengan sedikit tergesa-gesa. Dia bilang dia telat tadi. Dan dia punya trik agar bisa masuk yaitu dengan memanjat gerbang belakang sekolah. Aku bilang kepadanya jangan seperti itu. Tapi ia berbicara aku harus mencobanya. Aku tertawa mendengar itu.
Eight met, dia tidak berada di taman belakang sekolah lagi, ku tunggu ia. Untuk berapa menit, aku masih memasang senyumku untuk menyambut kedatangannya. Tetapi sudah hampir setengah jam ia tak kunjung datang. Bel akan segera berbunyi tanda masuk.
.
.
Nine met, ia tak berada di sana lagi. Mungkin ia terlalu sibuk pikirku atau ia telat sekolah, atau jangan jangan ia meninggalkanku. Pikiranku mulai tak karuan. Aku mulai meninggalkan taman dan melaju ke kelas dia. Ku tanya temannya apakah seth masuk sekolah. Dan temannya berkata ia tidak masuk sekolah. Aku tanya apa sebabnya ia tidak masuk. Temannya berkata tidak ada kabar dari seth dan temannya bilang ia akan beritahu esok bila ada kabar yang masuk. Maka aku sangat menantikan hari esok.
Last met, saat ingin ku pergi ke taman, teman-temanku memanggilku, aku menghampiri mereka dan mengikuti mereka ke kantin. Tetap saja tidak memperbaiki moodku, aku pergi ke taman belakang. Aku menangis, menangisi diriku sendiri. Kenapa aku harus mengenal dia. Kenapa aku harus jatuh hati padanya. Kepalaku mulai pening, karena tangisanku yang sudah mulai menjadi-jadi. Tercium aroma cappucino, yang membuatku teringat kepadanya, seth gamiruz, yang telah membuat hidupku berwarna, yang selalu menungguku, yang selalu menghiburku dan selalu ada untukku. Hari ini aku akan mengetahui dengan segera apa penyebab seth tak masuk sekolah dan tak menemuiku.
.
.
Lembar-lembar diarynya masih terbolak-balik di tiup angin.
Seira tertunduk sambil menengadahkan tangannya, dan mulai terdengar suaranya yang serak yang dikarenakan tangisannya tadi.
“Aku tidak menyangka seth, kau pergi lebih dulu meninggalkanku.” terdengar isakannya sedikit.
Aku masih diam tak percaya
“Tapi kau tahu, aku akan segera menyusulmu dikarenakan penyakit jantungku yang takkan bisa bertahan lama.”
Mulai kulihat tubuhku dan kau takkan percaya yang kulihat adalah seperti gas sitoplasma, sitoplasma yang melekat di tubuhku bukan daging atau tulang.
Ternyata karena ini, karena ini aku selalu tak diperhatikan, karena ini dia tak pernah ingin berbicara kepadaku, karena tubuhku yang telah berubah menjadi sitoplasma.
“Kau ingat saat kita mulai saling berbicara dan kau selalu membawakanku capuccino kesukaanmu. Dan kau harus tahu lagi, terkadang masih tercium aroma capuccino yang selalu kau bawakan untukku.” Terdengar helaan panjang dari Seira
.
.
“Segalanya telah kau lakukan untukku. Kini kurelakan kau agar tenang di sana dan diary ini adalah sebagai pengingat bahwa kau tak pernah menyerah untuk memperjuangkanku dan kini aku yang akan memperjuangkanmu. Tunggulah.”
Sekarang ku tersadar kejadian hari ini merupakan bagian bagian memori yang masih terekam jelas dalam pikiranku. Aku yang tidak bisa melupakannya akan selalu memikirkan seira walaupun tubuhku sudah tak nyata lagi.
Hawa dingin yang berada di sekitar tubuhku perlahan lahan mulai berganti menjadi panas, sitoplasma ini pun tak bisa menahannya seperti tertarik ke atas dan seperti tak akan bisa kembali lagi ke dunia yang penuh dengan drama ini.
2 tahun telah berlalu
Acara kelulusan akan diadakan
.
.
“Sekarang kalian akan menempuh ke dalam bidang dunia kalian masing-masing dan selamat kepada siswa siswi yang lulus dalam ajaran tahun 2016. Tidak lupa kita doakan para teman kita yang tidak dapat menyelesaikan tugasnya hingga harus ada pengulangan agar mereka mendapat pengetahuan yang bisa lebih berguna untuk mereka. Dan juga tidak lupa kita doakan siswa sekaligus teman kalian Seth gamiruz dan siswi Seira bramawira semoga kedua arwah mereka diterima di sisinya. Dan saat ini kalian harus menghadapi kenyataannya. Tidaklah mudah untuk mencapai perjalanan sampai saat ini, semoga bekal yang telah kalian terima di sma ini cukup untuk nanti. Dan sekali lagi selamat kepada kalian siswa siswi yang lulus tahun ajaran 2016”.
“Yeeaay” sorak anak-anak.
“Selamat ya Joe akhirnya kita akan memilih jurusan kita” jabat salah seorang anak kepada Joe.
“Yo bro sama-sama. Congrats too yo” balas Joe sambil membalas jabat tangan temannya.
Joe menatap ke seluruh ruangan dan matanya terhenti, dan seulas senyuman terukir di wajahnya, di meja yang terletak di depan pojok nampak seorang lelaki sitoplasma sedang memegang tangan gadis cantik sitoplasma berambut pirang pendek sebahu. Nampak wajah kedua orang tersebut ikhlas dan berseri-seri tanda bahagia.
.
.
Cerpen Karangan : Aurora Rezki
Blog Pengarang : aurorarezki.blogspot.com

Line Pengarang : @rarezam

Sumber : https://kakakiky.blogspot.co.id/2017/04/cerpen-pramuka-pieces-of-memories.html
Read More
Cerpen Pramuka | Sakura Dan Kamu - Ninabelle

Cerpen Pramuka | Sakura Dan Kamu - Ninabelle

Follow Instagram Admin @letkolrizki

Alarm dipagi hari membangunkanku, hari ini aku akan melakukan perjalanan jauh. Aku akan pergi ke Negeri Matahari Terbit, Jepang. Pesawat yang kutumpangi cukup penuh dengan penumpang, mulai dari keluarga yang akan berlibur, pasangan baru, sampai orang-orang berjas yang akan melakukan bisnis. Aku memilih kursi paling belakang karena aku berharap aku akan duduk sendirian, lebih nyaman untuk perjalanan yang cukup memakan waktu ini. Tapi harapanku itu pupus keran ada seorang pria yang akhirnya duduk di sebelahku. Pria itu berumur akhir 20an, dia tinggi, jangkung, dia sangat manis dan tampan. Ya, dia sangat tampan.
.
.
”Tempat duduk di sini sangat sempit, mari sini berikan aku barangmu, aku akan taruh di laci kabin, supaya tidak terlalu sempit,” kata pria itu. Aku tertegun, aku masih terpesona dengannya “Oh! Iya ini silahkan, memang agak sempit di sini,” Lalu pria itu duduk dan menyapaku “Halo, namaku Ryan, siapa namamu? Boleh kita berkenalan?”
Aku pada saat itu ragu karena di pesawat jarang ada orang yang mau berkenalan dan menyapa.
“Tenang, aku bukan penculik atau pembunuh kok,” jawabnya dengan tertawa. Aku tersenyum karena kata-katanya dan tawanya. “Namaku Ninabelle, kamu bisa memanggilku Nina,” Aku pun luluh karena leluconnya tersebut. “Senang berkenalan denganmu, sepertinya kita akan bersama dalam 8 jam kedepan.” katanya sambil tersenyum.
.
.
Dia terus mengajakku mengobrol dan kami pun mengenal satu sama lain. Ternyata dia adalah seorang dokter dia berumur 28 tahun, umurnya agak jauh denganku yang berumur 18 tahun selain itu kami juga bertempat tinggal di hotel yang sama ketika nanti kami di Jepang. Kami pun merencanakan untuk pergi menjelajahi kota Tokyo besama-sama selepas kami sampai nanti, karena aku maupun dia tidak pernah pergi ke Jepang sebelumnya.
.
.
“Kita akan mulai perjalanan kita malam nanti ya, kita berjalan-jalan dulu di sekitar hotel mencari makan malam, jangan sampai lupa nanti kamu turun jam 6, jangan buat aku menunggu,” katanya sambil menulis-nulis rencana kami. “Iya pasti nanti aku akan turun kok, aku juga perlu makan, hehehe,” jawabku. “Hahaha, kamu itu lucu juga ya? Makanan aja terus yang dipikirin.” jawab Ryan sambil mengacak-acak rambutku.
.
.
Aku tidak mengira aku bisa sedekat ini dengan dia. Bahkan aku telah mengangap dia sebagai kakakku sendiri, padahal kami juga baru bertemu. Sesampainya kami di Jepang kami pun memesan satu taksi untuk berdua, lumayan untuk menghemat biaya transportasi, lagi pula kami juga menuju ke tujuan yang sama. Kami istirahat dan seperti yang telah kita rencanakan kami akan berkeliling di sekitar hotel untuk makan malam.
.
.
“Kamu udah laper?” tanyanya. “Iya, tapi kita cari dulu mau makan apa, jangan yang aneh-aneh,” jawabku. “Aku mau cobain itu ah, tentakel gurita yang dibakar, katanya enak banget,” katanya sambil tersenyum. “Ih. Gak mau ah mana enak sih, kita makan ramen kalo gak nasi aja,” kataku. “Ahh. Itu mah banyak di Jakarta juga, makan yang berbeda donk,” jawabnya. “Ya udah kalo mau makan gurita-gurita itu, aku mau cobain aja gak mau makan satu porsi,” kataku dengan marah. “Yah gak usah marah gitu, gini aja deh, kamu pesen dulu aja satu porsi, siapa tau kamu suka, kalo gak suka yaudah, nanti kamu kelaperan lagi malem-malem.” katanya.
Aku mengiyakan dan mengangguk.
.
.
Kami pun makan dan ternyata aku tidak terlalu suka dengan makanannya, jadi setelah aku makan satu potong Ryan langsung mengambil piringku dan memakan sisanya.
“Eh, gak usah dimakan yang sisanya,” kataku. “Gak papa aku makan sayang makanannya, abis ini kita makan ramen aja lagi.”
Aku pun tersenyum, gak sangka bisa ada cowok sebaik ini. Kami pun makan lagi di tempat yang lain. Setelah makan kami pun berjalan-jalan.
.
.
“Kamu kenapa pilih jalan-jalan ke sini?” tanyaku untuk memecah kesunyian “Aku mau meluangkan waktuku dulu sendiri, aku sebentar lagi mau menikah, aku dijodohin sama orangtua aku, ya jadi sebelum nikah dan terkekang aku pengen sendiri dulu. Kalau kamu ngapain ke sini?” tanyanya, “Ini pertama kalinya aku pergi tanpa kedua orangtuaku, aku mau mandiri, jadi aku pilih ke sini karena aku pengen ini jadi liburan yang terkenang gak biasa, di sini aku mau mencoba jadi diri aku sendiri tanpa tekekang orangtua.” kataku.
.
.
Malam semakin lama semakin larut, kami pun kembali ke kamar hotel masing-masing. Sebelum tidur, aku pun berpikir, dia udah punya pacar bentar lagi nikah. Dia udah mapan, udah sukses jadi dokter, wajarlah kalau banyak cewek yang mau nikah sama dia. Aku juga ngapain peduli sama pacarnya dia, gak mungkin kan suatu saat nanti kami bakalan pacaran. Toh, secara umur kita yang beda jauh aja gak mungkin kan?
Tapi… kalau bisa memilih, aku sih mau jadi pacarnya dia. Aku pun langsung menutup diriku dengan selimut. Kenapa coba mikir kayak gitu, logis lah itu gak mungkin, kataku kepada diriku sendiri.
.
.
Hari-hari selanjutnya kami tidak memiliki janji khusus, hanya kalau ketemu aja sempetin untuk jalan, ngobrol dan makan bareng. Seperti hari ini, kami tidak punya janji dan hari ini aku mau lebih bersantai.
Aku hari ini mau belanja ah, pikirku. Aku pun berjalan ke salah satu mall yang sangat besar dan terkenal di Jepang. Mall di sana tidak jauh beberbeda dengan apa yang ada di Jakarta, kecuali di sana mallnya jauh lebih besar dari apa yang ada di Jakarta.
.
.
Setelah berkeliling dan mencoba memakai beberapa baju, aku melihat seorang yang familiar, ternyata itu Ryan! Dia sedang berkeliling di bagian perhiasan dan aku perhatikan dia sedang memilih sebuah kalung.
“Ryan! Haii ngapain kamu?” kataku langsung menyapanya. “Hai Nina! Aku lagi nyari hadiah pertungan nih buat pacar aku. Kamu sendiri ngapain?” jawabnya sambil tersenyun lebar. “Aku cuman lagi liat-liat baju aja kok. Kamu mau kasih dia kalung ya?” tanyaku. “Iya nih, tapi aku bingung, kamu kan cewek pilihin donk yang bagus.” mintanya kepadaku.
Aku pun mulai melihat-lihat etalase yang ada di depanku dengan jejeran kalung emas yang indah di dalamnya. Aku pun memilih satu kalung dengan design bunga sakura kecil dengan sebuah berlian kecil di tengahnya, indah tapi sederhana.
“Kamu tunggu di sini ya aku bayar dulu.” jelasnya. Aku pun mengangguk meniyakan.
Aku berpikir enak ya punya cowok mau apa dibeliin, bahkan udah jauh Jakarta Jepang aja masih dipikirin, mau dikasih apa. Aku jadi ngiri sama pacarnya Ryan.
.
.
“Ayo kita jalan-jalan lagi,” katanya memecah pikiranku. “Koko, udah tunangan kok gak pake cincin,” tanyaku sambil berjalan. “Tumben pake koko, mukai sopan ya sekarang, iya gak apa-apa lah aku tunangan cuman di mulut aja di hati nggak, jadi kalo lagi sendiri lepasin aja,” jawabnya. “Kan emang mestinya aku panggil koko, kalo gak mau ya aku panggil Ryan lagi,” kataku sambil membuang muka. “iya, terserah kamu aja panggil apa, aku sih lebih suka dipanggil koko.” aku pun mengangguk.
.
.
Kami pun berjalan-jalan di sekitar mall, aku dan dia mencoba-coba pakaian, sambil bergaya- gaya dan tertawa. Enak ya punya temen buat seneng-seneng bareng, nggak malu satu sama lain. Gak nyangka, baru 2 hari kenal aku sama Ryan bisa kayak gini. Karena kita udah diliatin sama pegawainya karena kebanyakan coba baju kita pun kabur dari situ dan jalan- jalan ke luar.
.
.
“Eh aku haus nih kamu mau aku beliin minum gak?” tanyanya tiba-tiba. “Boleh,” jawabku singkat. “Ya udah kamu tunggu sini aja aku beli minum ya,” katanya sambil tersenyum. Ketika kembali dia hanya membawa satu botol minum air mineral. “Loh, kok koko gak beliin aku? Kan aku udah nitip,” kataku dengan nada meninggi. “Yehh, justru ini buat kamu, aku nanti sisanya aja, buat berdua aja air mineral di sini agak mahal, sama kayak 25 ribu uang Indo,” jelasnya.
.
.
Aku pun minum dan tak lupa aku menyisakan untuk Ryan. Walaupun aku cuman sisain sedikit karena aku kehausan Ryan gak marah-marah atau mengeluh dia malan menerima sisa air aku dengan senyum. Cowok sejati, kataku dalam hati, jaman sekarang mana ada sih cowok yang rela kehausan demi ceweknya, cowok bayarin makan aja udah jarang. Aku pun melanjutkan perjalananku dengan Ryan. Aku bercerita tentang kehidupan mahasiswa aku yang rumit, banyak tugas dan temen-temennya yang gak bersahabat.
.
.
Dia menesehati aku baik-baik dan mencoba mencari solusi terhadap masalah aku di kampus. Dari situ aku merasa kagum, dia bisa menjadi sosok yang sangat bijak dan menjadi seorang kakak seperti apa yang kubayangkan. Dia pun bercerita bagaimana perjodohan dia dengan pacarnya sekarang sampai akhirnya bertunangan dan nantinya akan menikah, tentang sulitnya menjadi seorang dokter yang baik, dan tentang pasiennya yang kadang aneh sekaligus lucu. Aku hanya bisa mangut-mangut, aku gak ngerti soal percintaan dan aku pastinya gak ngerti bagaimana jadi seorang dokter. Tanpa sadar hari sudah malam, tapi kami berdua gak ada satu pun yang capek, kami menikmati kesendirian dan kebebasan yang jarang ada ini.
.
.
Jujur, aku merasa nyaman banget sama Ryan, seandainya dia lebih muda dan belum bertunangan aku pasti sudah mati-matian agar dia mau jadi pacarku. Iya, mati-matian! Dari semua cowok yang aku kenal gak ada yang bisa kayak Ryan, mau berkorban buat cewek, apalagi kalau cuma temen kayak aku. Selain itu dari semua pasangan yang aku tau gak ada yang hubungannya bisa sampe kayak aku sama Ryan, kebanyakan cewek atau cowoknya berusaha jaim di depan pacarnya.
.
.
“Pulang yuk, udah malem nih,” kataku. “Temenin jalan-jalan dulu lah sebentar aku belom capek nih,” jawabnya. “Ya udah istirahat dulu donk capek nih dari tadi jalan melulu,” kataku memelas. “Yahh, masa jalan baru segitu aja udah capek? Ya udah tuh ada tempat main gitu, kamu iatirahat tapi aku mau main ya,” katanya sambil tertawa.
Aku mengangguk lemas. Aku pun duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana. Jepang itu keren, masa di pinggir jalan ada tempat main gini, permainannya sedikit sih, tapi lumayan kalo capek jalan bisa main dulu di sini. Aku perhatikan, Ryan memilih untuk bermain capit boneka. Aku pun datang untuk menghampiri dia.
.
.
“Hadiahnya pasti buat pacar lagi.” kataku sambil tersenyum “Lah, katanya capek pas main mah ikut juga,” katanya dengan nada mengejek, “Mau liat koko berhasil apa nggak, kalo yang mainan kayak gini kan biasanya susah buat dapetnya, kalo koko bisa dapet berarti hebat,” kataku sambil mengacungkan jempol. “Nggak, nanti ini kalo dapet hadiahnya buat kamu kok,” katanya sambil memilih boneka yang menjadi target.
Aku kaget, tapi aku pasti terima kalo memang dia dapet sih.
.
.
Malam semakin larut Ryan tidak menyerah untuk mendapat boneka itu untukku. Kami sudah sekitar setengah jam di sini, tapi Ryan gak berhenti-berhenti main.
“Ko, pulang lah udah malem banget ini,” kataku memelas. “Bentar lagi lah ini udah mau dapet, abis ini janji deh ini juga tinggal satu koin lagi kok, aku mau
.
.
kasih kamu kenang-kenangan.” jawabnya.
Aku pun langsung malu dengan ungkapannya itu, aku gak sangka dia mau kasih aku kenang-kenangan. Tapi setelah dia tidak mendapat boneka tersebut terakhir kalinya, dia pun menyerah dan langsung meminta untuk pulang.
.
.
Selama di perjalanan dia meminta maaf kepadaku karena gagal untuk mendapatkan boneka itu untukku, dan tentu saja aku memaafkannya, toh aku pun tidak mengharapkan apapun dari Ryan. Jalanan di sekitar kami licin, karena tadi turun hujam sedikit. Karena keasikan memgobrol tiba-tiba Ryan terjatuh, aku pun langsung menolongnya untuk bangun, tapi karena dia terlalu berat aku pun ikut terjatuh.
Ryan, langsung bangun dan menolongku, kami pun tertawa karena aku yang ceroboh. Ketika dia membangunkanku ternyata lututku mengenai kerikil dan terluka cukup dalam, aku jadi susah berjalan. Ryan akhirnya merangkulku dan membantuku berjalan.
.
.
“Aduh kamu lama banget sih jalannya, kalo kamu kayak gini kita besok pagi baru nyampe hotel nih,” katanya sambil mengeluh. “Yah, abisnya gimana memang kakinya lagi luka kok,” jawabku. Tanpa sadar dia menariku ke belakangnya dan dia berjongkok. “sini naik aja lebih cepet,” katanya.
.
.
Aku pun berjalan melewati dia. Tapi dia mengejarku dan berjongkok lagi di depanku. Kali ini dia tidak memintaku dia langsung menggapai kedua kakiku dan mengapitnya di tangannya. Aku pun tertegun, tanpa sadar aku sudah digendong olehnya.
.
.
“Aduh ko gak usah malu diliatin orang, lagian aku kan gendut, nanti koko jatuh loh,” kataku sambil bersaha turun. “Justru kamu jangan gerak melulu nanti jatuh beneran, gak apa-apa lah biar cepet aku juga udah ngantuk.” jawabnya sambil berjalan dan mengapit kakiku lebih kencang lagi.
.
.
Tak sadar aku tertidur di dalam perjalanan, ketika sampai di hotel pun aku masih tertidur. Ketika keesokan harinya aku bangun aku tersadar kalau ini bukan kamarku. Lalu aku pun melihat Ryan yang sedang tertidur di sofa, aku pun tersadar kalau aku di kamarnya dia. Aku pun berjalan ke arah Ryan untuk menyelimutinya. Ketika aku berusaha berdiri, aku teringat luka di kakiku, luka itu sudah dibersihkan oleh Ryan. Aku pun berjalan dan menyelimutinya, aku segera mengambil tasku dan pergi ke kamarku.
.
.
Tak terasa aku harus kembali pulang ke Jakarta karena aku harus segera memulai kuliahku beberapa hari lagi. Ryan yang akan masih berada di Jepang sepertinya sangat merasa kehilangan, terlihat dari raut wajahnya yang sedih. Aku pun memesan taksi untuk pergi ke bandara, Ryan memaksa untuk ikut mengantarkan aku ke bandara. Di tengah perjalanan Ryan memberiku sebuah kotak kecil.
“Ini apaan? Kenapa kasih aku?” kataku kebingungan. “Kenanganku untuk kamu Nin, disimpen ya jangan lupain aku Nin.” katanya serius.
Aku mengangguk, tiba-tiba kepalaku ditarik olehnya dan disandarkannya kepalaku di bahunya. Aku yang kaget langsung refleks untuk mengangkat kepalaku, tapi dia menahannya dengan tangan.
“Udah kamu tidur dulu aja ini sampenya masih lama.” katanya.
Aku yang tertegun tidak bisa mengatakan apa-apa, akhirnya aku pun tertidur di bahunya.
.
.
Sesampainya kami di bandara dia langsung membangunkan aku dan membantu mengeluarkan barang-barang yang kubawa. Tak lupa kami juga mengucapkan selamat tinggal dan dia memberiku pelukan hangat. Saat di pesawat, perjalananku terasa berbeda tanpa dia. Terasa sepi. Aku akhirnya teringat dengan kado pemberian Ryan, rasanya tak enak gak ngasih apa-apa ke dia.
Saat dibuka ada kertas yang berisi surat dari Ryan kepadaku, di balik kertas itu ada kalung emas sakura. Ya, kalung itu yang aku pilih beberapa hari lalu untuk pacarnya Ryan. Aku kaget dan merasa heran. Setelah itu aku buka surat yang ada bersama hadiahnya tersebut. Begini katanya:
.
.
“Bye Nina, jangan lupain kokomu ini ya, kita emang cuman kenal beberapa minggu tapi jujur aku dalam waktu yang sedikit itu sayang banget sama kamu. Bukan sayang seorang koko untuk adik tapi lebih ke dari cowok ke pacarnya. Aku gak tau apa kamu rasain yang sama tapi setidaknya aku rasainnya begitu. Aku mulai mikir kita jodoh saat kita ketemu di mall itu, aku emang lagi milih kado buat pacar aku, tapi gak tau kenapa pas liat kamu aku mau kasih kamu aja, Nin. Karena itu aku minta kamu yang pilih. Nina, jujur kalo misalnya aku belum tunangan kita pasti udah pacaran sekarang, tapi kalau aku sampai batalin tunangan aku, aku pasti udah diusir dari rumah. Aku sempet mikir pengen kawin lari sama kamu, Nin. Tapi aku mikir kamu kan masih kecil, gimana bisa? Jadi aku mengurungkan niat aku nih buat kamu. Jadi kamu kalo sampe lupa sama aku sih, keterlaluan ya. Kamu pokoknya jangan lupain aku.”
.
.
Isi suratnya membuatku tertawa sekaligus terharu. Ternyata selama ini dia menyimpan rasa untukku, aku kira dia hanya menganggapku adiknya. Jujur, kalau memang boleh mengatakannya aku juga menyimpan perasaan kepadanya, tapi aku mencoba memendam perasaan itu dan menganggapnya sebagai rasa sayang adik terhadap kakaknya. Aku memandang kalung tersebut, indah dan penuh memori. Seandainya, dia bertemu aku sebelum pertunangan itu terjadi, kita tak perlu diam-diam menyimpan rasa seperti ini.
Kita tak perlu untuk berpura-pura dan berakting. Menurutku, umur kami yang terpaut cukup jauh bukanlah halangan, asal kami selalu mencintai satu sama lainnya. Mungkin kisahku dengan Ryan hanya merupakan sebagian kecil dari kisah hidupku, tapi percayalah sebagian kecil itu mempunyai makna yang besar
.
.
untukku. Mungkin ini tidak pantas dikatakan sebagai kisah cinta, tapi percayalah kalau ini merupajan kisah cinta paling indah untukku. Mungkin kisah ini hanya sebatas kisah kasih biasa saja tapi, percayalah kisah ini merupakan kisah kasih yang jauh lebih berarti dibandingkan kisah kasih tak sampai. Mungkin kami tidak bisa saling mencintai, tapi percayalah kalau kami memang ditakdirkan untuk bersama.
.
.
TAMAT
.
.
Cerpen Karangan : Ninabelle

Facebook Pengarang : Niinabelle Nathania
Read More
Cerpen Pramuka | Gerimis Merah - Arief Agoomilar

Cerpen Pramuka | Gerimis Merah - Arief Agoomilar


Langit tampak begitu temaram, sesekali suara bergemuruh menggema sayup-sayup dari balik awan, mengabarkan pada semesta bahwa rintik-rintik air hujan bisa jatuh kapan saja membasahi bumi. Angin hanya berhembus perlahan dan kicauan burung di antara rindang pepohonan seperti menghilang tanpa isyarat, tenggelam dalam wibawa alam yang tersirat dibalik redupnya matahari sore ini.
.
.
Aku mempercepat laju motorku, ancaman dari hujan yang dapat turun sewaktu-waktu serta kesadaran bahwa diriku sudah telat datang ke tempat perjanjian sejak hampir satu jam yang lalu membuat aku hanya bisa pasrah pada kenyataan saja.
“Semoga hujan tidak turun.. semoga dia masih di sana…” Gumamku berulang-ulang seperti melafalkan mantra.
.
.
Aku begitu resah, aku yang baru saja lulus dari SMAN 3 Bandung dua minggu yang lalu ini benar-benar tidak pernah menduga bahwa ban motorku harus pecah dua kali sore ini, pertanda apa gerangan? Pikirku penuh tanya.
.
.
Untuk seorang pemuda yang terbiasa mengendarai motor setiap hari menuju sekolah, aku sepenuhnya mengerti jika kejadian pecah ban di tengah jalan merupakan hal yang lumrah dan bisa terjadi kapan saja pada siapa saja, tetapi mengapa mesti sekarang? Mengapa harus hari ini?
.
.
Aku bukan orang yang suka mempersalahkan nasib, tapi mengingat bahwa hari ini mungkin adalah hari terakhirku bisa memandangi paras cantik Samya, gadis yang telah menjadi kekasihku sejak tiga tahun yang lalu, aku mulai berpikir betapa nasib seperti sengaja mempermainkanku kali ini, apalagi setelah aku menyadari bahwa telepon genggam yang biasanya tak pernah lupa kusertakan kemanapun ternyata tertinggal di kamarku.
.
.
Sekarang aku hanya bisa menggerutu dalam hati, harapanku kini ada pada diri Samya seorang.
Semoga saja gadis itu cukup sabar menunggu kedatanganku.
.
.
Aku tahu betul bahwa tak lama lagi Samya akan pergi dan menetap di Perancis, tinggal bersama kedua orangtuanya yang telah cukup lama bekerja di kedutaan besar RI di negara itu, ia akan segera meninggalkan negara ini, membawa jauh sejuta kenangan yang telah kami lalui bersama-sama.
Aku berusaha memacu motorku lebih cepat lagi menuju tempat pertemuan yang telah dijanjikan oleh gadis itu sebelumnya, aku benar-benar tak sudi menyia-nyiakan sedetikpun saat-saat terakhirku bersama gadis itu.
.
.
Tak berapa lama butir-butir air mulai berjatuhan satu demi satu, menyisakan dingin udara menusuk-nusuk ragaku yang tengah memacu motor dalam kecepatan tinggi. Dari balik helm aku menyaksikan jalanan yang mulai basah dibasuh gerimis, dan tiba-tiba saja aku merasa waktu seolah berjalan mundur, mundur, kemudian berhenti tepat pada hari ketika takdir mempertemukanku dengan Samya untuk pertama kalinya.
.
.
Aku tak dapat membayangkan betapa bodoh raut mukaku saat itu, ketika tanpa sadar aku mengulurkan tanganku kepadanya untuk berjabat tangan, Samya hanya bengong sambil menatap kedua mataku, kami bertatap-tatapan sejenak dengan tangan bertautan, tanpa sepatah katapun. Hanya debaran jantung dan desah nafas masing-masinglah yang dapat kami dengar dan rasakan saat itu.
Aku dan dia seperti dibekukan waktu, hingga akhirnya sebuah teriakan menyadarkan kami berdua,
“HEH! SIAPA YANG NYURUH SALAMAN?! AYO PUSH UP 15 KALI!!” Bentak salah seorang senior yang melihat kelakuan ganjil kami ketika acara MOS berlangsung, Aku dan Samya segera mengambil posisi push up sambil menahan senyum. kami seperti merasakan getaran yang sama, dalam perasaan yang tiada terungkap lewat sepatah katapun.
Aku baru sampai pada hitungan sepuluh kali push-up ketika langit tiba-tiba menghadiahi bumi dengan rintik-rintik air yang jatuh perlahan dan lambat laun semakin menderas bersama guntur yang bersahut-sahutan.
Dan lagi, tanpa sadar aku menarik tangan Samya, membawanya berteduh di emperan kelas, bersama puluhan senior dan siswa baru lainnya yang juga tak ingin basah oleh hujan di pagi hari yang dingin itu. Kemudian semua terjadi seperti sebelumnya, Aku hanya terdiam di sebelah Samya yang tampak gelisah dalam keheningan yang diciptakan oleh kami berdua, tiada sepatah katapun terucap dari bibirku dan tiada sedikitpun kami berdua saling mengenal, namun sudah dua kali aku menyentuh jemari Samya dan gadis itu tidak kuasa menolaknya.
.
.
Sunyi baru beranjak di antara kami beberapa hari kemudian, ketika aku tanpa sengaja berpapasan dengan Samya di koridor kelas, kali ini aku tak mau dibodohi oleh perasaanku sendiri, maka tanpa basa-basi aku berusaha memulai percakapan, aku tak ingin semuanya berakhir beku seperti hari kemarin, hampa tanpa kata-kata.
“Hmm.. eh.. gini.. kenalin, a.. aku Zein…” Ujarku terbata-bata, tidak biasanya aku merasa kikuk dalam sebuah perkenalan, tapi entah mengapa, kali ini semua terasa lain.
Samya hanya memandangku sejenak dengan senyum mengembang, kemudian Samya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya: selembar kertas dan sebatang pulpen.
‘AKU SAMYA, SENENG DEH BISA KENALAN SAMA KAMU’
Tulis gadis itu di atas selembar kertas.
Aku terpaku dengan pandangan bingung,
Sesombong inikah dia? Apa dia tak sudi berbicara denganku? Betapa angkuhnya! Batinku kesal.
Seakan mampu membaca isi hatiku, buru-buru Samya menulis sebaris kalimat lagi di bawah kalimat sebelumnya,
‘MAAF YA.. BUKANNYA SOMBONG, TAPI BEGINILAH KEADAANKU!’
Setelah membaca kalimat tersebut Aku seperti membeku di atas kakiku, aku tatap matanya lekat-lekat seolah Samya adalah seorang pembohong besar.
Tiba-tiba Samya mengangguk, dia seperti memahami tatapan penuh tanya dariku yang membutuhkan pembenaran dari kalimat yang ia tulis barusan.
Dan aku pun tercekat dengan mata terbelalak tak percaya setelah aku yakin dengan kejujuran yang dipancarkan dari sepasang mata indah gadis itu.
Gadis ini… tak dapat berkata-kata?
.
.
Roda-roda motor kesayanganku masih gagah membelah gerimis yang kian menderas, aku benar-benar berusaha secepat mungkin menemui Samya yang tentu sudah sedari tadi menungguku di tepi sebuah danau kecil di belakang taman dekat sekolah, tempat yang begitu banyak menyimpan kenangan kami berdua.
Sesekali padatnya kendaraan yang memenuhi ruas-ruas jalan memaksaku untuk sedikit melambatkan motor, dalam hati aku mengumpat, aku tidak bisa membiarkan Samya menunggu lebih lama, tidak baik membiarkan seorang wanita menunggu sendirian di sore hari yang muram seperti ini.
.
.
Masih segar dalam ingatanku bagaimana Samya amat membenci kemacetan, meski gadis itu tiada dapat mengucap sepatah katapun karena pita suaranya telah lama dirusak oleh penyakit Laryngitis parah yang mampu melumpuhkan saraf-saraf lisannya, namun aku dapat merasakan ketidaksukaan gadis itu pada padatnya jalan lewat desahan nafas panjang yang berulang-ulang setiap kali kuantar ia pulang ke rumahnya dengan motor kesayanganku.
Jika sudah begitu, aku hanya bisa menghibur Samya dengan mengajaknya bicara mengenai apa pun yang sekiranya dapat menarik perhatian gadis itu, dan Samya hanya perlu merespon dengan anggukan atau gelengan kepala saja.
Pada saat-saat seperti ini, meski ia tak dapat menanggapi celotehku dengan kata-kata, tapi aku mampu merasakan bahwa wanita itu menjadi lebih tenang, dan aku semakin merasa bahwa aku mampu menghangatkan hatinya dengan ketulusan yang mungkin tak akan pernah ia temukan lagi dikemudian hari.
.
.
Seusai jalanan kembali lancar, aku tentu akan berhenti berceloteh, dan Samya pun akan mengencangkan pelukannya pada pinggangku, membuat darahku seakan berdesir begitu kencang diantara perasaan bahagia yang membuncah, tumpah ruah memenuhi relung-relung hatiku yang terdalam.
Dari situlah aku menyadari, keputusanku untuk menjalin kasih dengan Samya tidaklah salah sama sekali, biarpun cemoohan dan komentar miring selalu saja terdengar dari mulut para penggunjing, namun tak sekalipun aku terpengaruh, karena di depan cinta semua suara-suara pengganggu yang mempermasalahkan ketidaksempurnaan Samya itu memang seperti tak ada artinya. Menguap begitu saja.
Kini aku menatap jalan dengan mata berembun.
Semuanya terlihat begitu memilukan sekarang, kenyataan bahwa kekasihku tercinta akan segera pergi ke tempat yang teramat jauh membuat dadaku menyesak hebat, kiranya inilah yang aku sebut sebagai kekhawatiran yang datang dari keberadaaan cinta.
.
.
Aku tidak bisa menepis ketakutan yang terus membayangiku sejak Samya mengatakan rencananya untuk tinggal bersama kedua orangtuanya di jantung kota Paris, Perancis. Aku takut jarak akan mengaburkan kasih sayang kami perlahan-lahan, karena jarak bisa berarti kehidupan, dan kehidupan memang tak pernah terlepas dari jarak, maka bagaimana sepasang anak adam dapat mencintai satu sama lain dengan jarak yang merintangi kehidupan mereka berdua? Cinta tentu akan terasa hambar tanpa pertemuan.
.
.
Aku bisa saja berjanji untuk menunggu Samya kembali, entah kapan. Tapi itu semua pasti tak akan semudah membalikan telapak tangan, bukankah kesetiaan sama beratnya seperti pengorbanan? Aku tidak ingin Samya terbebani dengan janji-janjinya, karena aku tahu janji adalah hutang, dan hutang haruslah ditebus dikemudian hari, bagaimana jika suatu hari aku atau dia menemukan orang lain yang pantas untuk kami cintai?
Sejujurnya aku tak pernah menginginkan hal itu terjadi: kami berpisah dan menemukan cinta kami masing-masing. Karena aku hanya menginginkan Samya seorang! Hanya gadis itu!
Aku ingin merasakan kebahagiaan bersama ia dengan segala kekurangannya, bagiku ketidaksempurnaannya bukanlah sebuah masalah, lagipula bukankah tak ada seorangpun di dunia ini yang mencapai derajat kesempurnaan? Lantas apa gunanya pula aku mempermasalahkan kesempurnaannya?
.
.
Dibalik semua pikiranku yang mengawang, aku masih saja menyesali keterlambatanku hari ini,
Pertemuan hari ini sesungguhnya sudah aku nantikan sejak peristiwa menyedihkan dua minggu yang lalu, tepat pada hari perayaan kelulusan SMA ku dan Samya.
.
.
Saat itu, ditengah hiruk pikuk euforia siswa yang berhamburan setelah acara kelulusan, Samya menarik tanganku menjauhi kerumunan yang bising, menuju danau kecil di belakang taman dekat sekolah, di sana Samya menumpahkan tangisnya dalam rengkuhan tanganku yang masih tidak mengerti, barulah setelah Samya memandang sedih kepadaku dengan airmata yang tertahan di pelupuk matanya, aku menyadari bahwa gadis ini sedang mengisyaratkan sebuah perpisahan yang teramat menyakitkan.
.
.
“Jadi.. sebulan lagi kamu akan pergi menyusul kedua orangtuamu? tinggal di perancis?” Tanyaku setelah Samya menunjukan email dari Ibunya di Perancis sana lewat telepon genggam miliknya, kami berdua kini tengah duduk berdampingan di pinggir danau tersebut.
Samya merebahkan kepalanya ke pundakku, ia mengangguk pelan dengan kepala bergetar menahan tangis, Samya mengerti betul betapa aku mencintainya tanpa syarat, karena selama dua tahun kami menjalin kasih, tak sekalipun aku membuat ia bersedih apalagi menangis, begitupun sebaliknya.
.
.
Aku betul-betul memahami apa yang Samya rasakan meski tanpa kata-kata, dan kali ini Samya seakan tak ingin membuatku memperburuk perasaanku sendiri, maka sekuat mungkin Samya terlihat seperti mencoba menahan airmatanya mengalir, mungkin ia ingin menangis sepuasnya di dalam kamarnya nanti, sebab sekarang ia hanya ingin mendengarkan suaraku yang selalu menenangkan hatinya.
.
.
Aku mengambil sebuah kerikil dan melemparnya ke tengah danau, sebisa mungkin kutepis kesedihanku dengan memandangi riak air yang meluas perlahan, untuk saat ini aku tak kuasa menatap kedua mata Samya yang telah bertahun-tahun menemaniku dalam kedamaian tanpa cela, kedamaian yang mungkin tak semua orang bisa menemukannya. Samya memang cantik meski ia tak mampu berbicara, tapi aku tahu bukan itu yang membuat diriku bertahan selama ini, kecantikan memang patut dikagumi, namun tentu terlalu hina jika kita mengukur cinta dari kecantikan yang hanya bersifat sementara.
Aku sendiri sebenarnya tak begitu paham perihal apa yang membuatku bisa mencintai Samya sedemikian rupa.
Aku mencintai Samya karena cinta, cuma itu yang ada di pikiranku.
.
.
Kami berdua menghabiskan hari itu dalam sunyi tanpa suara di pinggir danau tempat aku menyatakan cintaku kepada Samya tiga tahun silam, kami berdua terpekur menyelami perasaan masing-masing, larut dalam diam yang membingungkan, diam yang menggores perih sanubari kami berdua.
Di atas sana langit seperti membaca isi hati kami, arak-arakan awan yang berseri lambat laun menggelap dan menjelma menjadi mendung yang mengundang hujan.
Tiba-tiba Aku berdiri, mengagetkan Samya yang tengah bersandar di bahuku.
Untuk sejenak aku menatap tajam ke arah Samya, ia tertegun, dan seketika gelombang keputusasaan itu pun pecah, mengalir begitu saja dari mulutku.
“Jadi begini akhirnya? Ini yang kamu mau?! Pergi begitu saja?!” ujarku ketus dengan mata memerah, entah karena marah atau sedih.
Samya terperanjat, baru kali ini aku berbicara dengan nada tinggi seperti itu di depannya.
“Kenapa kau harus pergi sekarang!? Tidakkah aku berarti untukmu walaupun hanya sedikit?!” lanjutku dengan intonasi yang menghakimi dan menusuk.
Samya yang tak mampu berkata-kata hanya terisak sambil berusaha meraih tanganku, tapi aku mengelak, dan aku pun pergi meninggalkan Samya di tepian danau itu sendirian, dengan sebaris kalimat terakhir yang tentu melukai perasaan Samya:
“Aku menyesal! Aku menyesali pertemuan kita! Jika tahu akan begini, lebih baik kuakhiri hubungan kita sejak dulu!!”
Kemudian gerimis pun datang membasahi sore yang kelabu itu, menemani benci menghampiri kami dalam cinta yang terluka oleh dilema.
.
.
Motor itu masih melaju membelah genangan air yang mulai bermunculan di sepanjang jalan, membawa sejuta harapan untuk bertemu dengan kekasihku yang tentu sudah sedari tadi menunggu.
Kini embun di mataku telah berubah seluruhnya menjadi airmata, pedih selalu datang setiap kali aku mengingat apa yang kuucapkan kepada Samya waktu itu.
Aku hancur oleh kata-kataku sendiri, karena sebenarnya aku tak pernah menyesali pertemuan dengan gadis itu, sungguh tak pernah meski hanya sedetik! Tapi kata adalah pedang, yang mampu menusuk siapapun tepat ke arah jantungnya, dan inilah yang disesali sedalam-dalamnya olehku.
Luapan kalimat penuh emosi itu hanya berlaku selama dua belas jam bagiku, malam itu juga kuhubungi telepon genggam Samya, ia mungkin tak bisa menjawab, tapi setidaknya aku berharap agar gadis itu mau mendengarkan permohonan maafku yang tulus dan penuh penyesalan, meski hanya sekilas.
TUUUT..
klak!
Berhasil! Samya mengangkatnya! batinku girang.
Tanpa basa-basi, dan bahkan tanpa sempat mengucap ‘halo’ ku segera menyampaikan kata-kata maaf dengan lirih.
“Samya? Aku harap kamu masih mau mendengarkan! Aku minta maaf maaf sayang, aku menyesali kata-kataku!” seruku cepat, tanpa jeda.
“Kau tahu? Tak sedetikpun aku pernah menyesali pertemuan kita, itu hanya luapan emosi sesaat, cinta.. kata-kata yang tak kuucap dari dalam hatiku!” lanjutku dengan nada menyesal.
“Aku mencintaimu! Tak pernah sekalipun..”
TUUUUUT..
Sambungan telepon itu ditutup dari seberang sana.
Aku terduduk seketika, lemas menghampiri kedua kakiku, aku tergugu dalam perih penyesalan.
.
.
Aku memeluk lututku dengan wajah tertelungkup, dalam sesal kucoba memahami, Samya adalah seorang wanita, dan tak ada yang mampu melukai hati seorang wanita lebih dari sebaris kata-kata menyakitkan yang diucapkan oleh orang laki-laki yang paling mereka kasihi.
Aku seharusnya sadar bahwa Samya samasekali tak menginginkan perpisahan ini, sama seperti diriku, namun semuanya telah terlambat, kecuali waktu dapat diputar, mungkin aku masih punya kesempatan memperbaiki ini semua.
Dalam gundah, akhirnya kulakukan sesuatu yang sebenarnya terasa begitu asing dalam hidupku.
Aku menangis, tanpa suara.
.
.
Aku hampir sampai ke tempat pertemuan, dan harapan itu pun semakin menguat seiring dengan jarak yang kian menghilang.
Aku menepi sejenak di pinggir jalan, membuka helm dan menghapus airmata yang sedikit mengaburkan pandanganku, aku tak ingin terlihat cengeng di hadapan Samya, terlebih ketika dua hari yang lalu sms yang aku nantikan dari gadis itu akhirnya masuk ke inbox telepon genggamku.
.
.
Aku tunggu kamu di tempat terakhir kita ketemu, lusa jam 4 sore. Kita bicarakan masalah kita di sana.
Begitulah pesan singkat yang datang dari Samya, pesan singkat yang aku rasa lebih berharga dari apapun juga di dunia ini.
.
.
Samya memang seperti tak memberikan pintu maaf untukku, tapi tak pernah sedikitpun aku letih untuk meminta maaf kepadanya, aku terus berusaha agar kata maaf itu dapat terdengar bukan hanya ke telinga gadis itu, tapi juga ke dalam ruang-ruang hatinya.
.
.
Aku terus menerus mengirimkan pesan permintaan maaf, email penuh kata-kata cinta, dan berusaha menelepon Samya tiap 3 jam sekali sepanjang siang, meski tak sekalipun Samya membalas pesanku ataupun mengangkat panggilan telepon dariku, tapi semangatku tak pernah surut. Tak akan pernah.
Aku juga berkali-kali datang ke rumahnya, meski selalu saja aku pulang dengan tangan hampa tanpa sesuatupun selain jawaban yang terus-menerus sama dari satpam penjaga rumah gadis itu:
“Maaf mas, non Samya gak mau ketemu sama mas, katanya mendingan mas pulang aja..”
Aku tidak peduli! Aku tak akan menyerah! Aku membutuhkan maaf dari wanita terkasihku itu atau aku akan tenggelam selamanya dalam penyesalan, lagipula Samya yang aku kenal bukanlah wanita dengan hati sekeras batu yang tak mengenal makna kata maaf, jadi aku masih merasa yakin dan percaya bahwa lama-kelamaan hatinya akan melunak.
.
.
Dan semua usahaku itu akhirnya benar-benar terbayar lunas melalui sebaris pesan singkat yang dikirimkan oleh Samya dua hari yang lalu, setelah dua minggu perjuanganku yang tanpa lelah, Samya akhirnya mengajakku untuk bertemu! Sungguh sebuah ajakan yang melapangkan dadaku selapang-lapangnya.
Meski aku tahu Samya akan segera pergi, meski kelak jarak separuh putaran dunia akan memisahkan kami berdua, namun apabila perpisahan itu datang tanpa adanya dendam dan luka yang menggantung perasaan kami, maka aku tentu dapat merelakannya perlahan-lahan.
.
.
Kini aku telah sampai dan bergegas turun dari motorku, aku sama sekali tak peduli akan bisingnya dentuman klakson dan suara dari orang-orang di seberang jalan sana yang begitu riuh entah karena apa, dengan setengah berlari aku masuk dan menyusuri taman hingga akhirnya tampaklah sebentuk danau kecil tempat aku dan Samya biasa menghabiskan waktu ketika jenuhnya dunia mengusik ketentraman kami berdua.
Aku mencari-cari gadis itu, wanita yang aku kasihi, namun tak ada siapapun di sana, hanya rintik gerimis dan keheningan saja yang tampak begitu jelas di mataku.
Mungkin Samya sedang berteduh di taman, menghindari gerimis. Pikirku menduga-duga.
.
.
“SAMYA!? SAMYA!!?” teriakku sambil menelusuri setiap jengkal tempat di taman dan di pinggiran danau tersebut.
Tetapi nihil, tak ada seorangpun disana.
Samya pastilah terlambat batinku yakin.
Aku tak pernah meragukan komitmen Samya pada janji yang ia buat sendiri, gadis itu memang tak pernah mengingkari janjinya, tak pernah walau hanya sekali.
.
.
Akhirnya kuputuskan untuk duduk dan menunggu saja di tepian danau, membiarkan gerimis menggerayangi tubuhku sedikit demi sedikit, dan dengan menyungging seulas senyum di bibir, aku mengenang kembali masa-masa indahku bersama Samya, kekasihku yang sebentar lagi akan pergi jauh meninggalkan kisah ini.
.
.
Aku masih menunggu Samya dengan sabar, dengan cinta dan kasih sayang yang membumbung setinggi langit, berharap gadis itu segera datang dan menganggukan kepalanya ketika kuucap kata maaf untuk kemudian berpisah tanpa penyesalan sedikitpun, tanpa luka ataupun dendam tersisa di hati kami berdua.
Aku akan terus menanti dan menanti,
Dalam penantian yang sesungguhnya sia-sia.
.
.
Beberapa menit yang lalu, di pinggir danau kecil itu..
Aku melirik arlojiku dengan gelisah, sesekali tatapanku mengawang jauh ke arah langit, mencemaskan mendung yang nampak semakin tebal menutupi langit.
Aku menggerutu dalam hati, mengutuk waktu yang seakan berjalan melambat sore hari ini.
Aku memang sengaja datang sedikit lebih awal ke tempat pertemuan yang telah kujanjikan kepada Zein sebelumnya, karena aku benar-benar merindukannya dan aku tak mau membuat pria itu menunggu, tetapi rupanya datang lebih cepat itu bukan ide yang bagus, karena penantian seperti ini justru malah membuatku semakin gelisah, sebab aku ingin segera menemui Zein!
Aku akui bahwa Zein memang telah melukai hatiku dengan kata-katanya yang menyakitkan, tapi sejujurnya, tak sedikitpun cintaku kepadanya berkurang atau memudar, aku tahu jika semua ucapan itu tidak datang dari seorang Zein yang aku kenal, lelaki dengan hati seputih salju.
Ucapan itu lahir dari emosi, yang tercipta akibat rasa ketakutan akan kehilangan, dan aku menghargai itu, aku menghargai kemarahan Zein meski aku juga tak bisa begitu saja memaafkannya.
Tetapi begitulah hati wanita, kegigihannya untuk mendapatkan maaf dariku pelan-pelan telah mencairkan luka yang telah mengeras dalam perasaan ini, membuatku tak kuasa untuk memendam kemarahan lebih lama terhadap kekasihku itu, kekasih yang rela berjuang untuk mempertahankan diriku yang tidak sempurna.
.
.
Detik berganti detik dan menit berganti menit.
Waktu terus bergulir hingga akhirnya aku menyadari, Zein terlambat!
Awalnya aku sedikit kecewa, namun kucoba memaksakan diri untuk menunggu Zein sedikit lebih lama, dan biarpun dingin menyergap tubuhku lewat gerimis yang mulai turun dari langit, aku mencoba untuk tak peduli.
.
.
Sudah hampir satu jam aku menunggunya,
Karena merasa suntuk dan dingin, aku yang sedari tadi meringkuk sendirian di tepian danau itu pun melangkah pergi, aku tak berniat untuk pulang, aku hanya ingin pergi sebentar ke toko bunga tepat di seberang gerbang sekolah dan membeli beberapa tangkai bunga mawar untuk Zein, aku mungkin terlalu kejam karena mendiamkan ia selama hampir dua minggu, jadi aku bertekad untuk minta maaf padanya lewat bunga-bunga.
.
.
Aku baru saja keluar dari toko bunga itu dengan beberapa tangkai mawar putih ketika tanpa sengaja kulihat sebuah motor bebek berwarna hitam melaju cepat menuju ke arah taman dari kejauhan,
Itu motor Zein! Dia akhirnya datang! Sorakku dalam hati.
Kerinduanku tiba-tiba memuncak dan segala di sekelilingku seperti lenyap begitu saja, di mataku kini hanya ada ia! hanya Zein seorang! Bahkan meskipun lelaki itu masih melaju di atas sepeda motor dengan helm yang menutupi wajahnya, namun aku bisa merasakan debaran jantungku meninggi, meluapkan rindu yang telah aku tahan-tahan selama ini.
.
.
Tanpa sadar aku berlari menerobos jalan, hendak berteriak memanggil nama kekasihku itu, aku sepenuhnya lupa bahwa aku tak mampu berbicara! Tak ayal, Kata-kataku tercekat begitu saja di tenggorokan dan seketika aku pun tersadar bahwa kata-kata bukanlah bagian dari kehidupanku.
Tetapi sebelum sempat aku menyesali kebodohan diriku sendiri, tiba-tiba kudengar suara dentuman klakson membahana, memecah keheningan dan rintik suara hujan, kemudian dalam sekejap kurasakan sebuah mobil berkecepatan tinggi menabrakku dari arah belakang, melempar tubuhku dengan keras di atas aspal yang basah bersama dengan tangkai-tangkai mawar yang patah.
.
.
Samar-samar, di antara gerimis yang memerah dan bisingnya teriakan panik orang-orang di sekitar tempat itu, aku menyaksikan lelaki yang kucintai berlari memasuki taman, menuju danau tempat dimana kami seharusnya saling berpeluk di bawah langit yang kelabu, menikmati sore hari ini dengan kebahagiaan seperti hari-hari yang telah kita lalui sebelumnya.
.
.
Aku ingin sekali memanggil nama Zein walau hanya satu kali, aku ingin ia tahu bahwa aku telah memaafkannya, aku juga ingin ia tahu bahwa aku memiliki sebuah kabar gembira.
Ya, sebuah kabar gembira, kabar gembira yang tertuju untuk kami berdua.
.
.
Tiga hari yang lalu, lewat sebuah email, kedua orangtuaku mengabarkan bahwa aku tak perlu lagi menyusul mereka ke perancis, karena tiba-tiba mereka dipindahtugaskan ke kantor pusat kementerian luar negeri di Jakarta.
Aku melonjak girang mendengar kabar itu, sirna sudah segala risau dan bayangan tentang sakitnya perpisahan yang selama ini menghantuiku.
.
.
Namun ternyata semua itu sia-sia, karena saat ini, dengan nafas putus-putus dan pandangan yang kian mengabur, aku tahu, bahwa aku akan segera terpisah dari Zein lebih jauh daripada apa yang pernah aku bayangkan sebelumnya.
Benar-benar jauh.
Jauh.. jauh sekali…
SELESAI
.
.
Cerpen Karangan : Arief Agoomilar
Blog Pengarang : agoomilar.tumblr.com
.

Saat ini pengarang tinggal di kota Bandung untuk menyelesaikan studi S1 nya dibidang kependidikan Bahasa Inggris Fakultas pendidikan Bahasa dan Seni di Universitas Pendidikan Indonesia.

Sumber : https://kakakiky.blogspot.co.id/2017/04/cerpen-pramuka-gerimis-merah-arief.html
Read More